Selasa, 06 Agustus 2019
Rabu, 16 Januari 2019
Metode Vibro Replacement untuk Mencegah Peristiwa Likuifaksi pada Bangunan yang dapat Terjadi di Daerah Rawan Gempa (Universitas Gunadarma Review)
Metode Vibro Replacement untuk Mencegah Peristiwa Likuifaksi pada Bangunan yang dapat Terjadi di Daerah Rawan Gempa.
Peristiwa likuifaksi adalah peristiwa dimana tanah yang sebelumnya jenuh air atau agak jenuh air tiba-tiba kehilangan daya dukung dan kekakuannya akibat adanya tegangan yang terjadi pada tanah tersebut misalnya, gempa bumi. Sehingga tanah yang tadinya berbentuk padat berubah menjadi berbentuk cair dan kehilangan kekuatannya.
Untuk mensiasati agar tetap dapat membangun bangunan didaerah rawan terjadi likuifaksi maka, digunakan metode vibro soil replacement dimana, sesuai Namanya, metode ini mengganti tanah yang rawan terjadi likuifaksi dengan material batuan cth: batu pecah. Penggantian tanah dengan material granular batuan dilakukan hanya sebatas luas perletakan pondasi atau seluas pile cap dengan kedalaman hingga mencapai tanah keras.
Material batuan memiliki daya porositas tinggi sehingga, memiliki kemampuan sebagai jalannya air pada saat terjadi gempa dimana air yang tadinya akan naik ke permukaan melalui pori-pori tanah dapat keluar melalui lapisan batuan tersebut dan tanah pada lapisan atasnya tidak menjadi tanah yang jenuh air yang mengakibatkan tanah akan berubah wujud menjadi cair.
Metode ini juga dipakai untuk meningkatkan daya dukung tanah terutama untuk perencanaan bangunan yang membutuhkan tipe pondasi dangkal pada perencanaanya. Untuk pembangunan di daerah tanah gambut juga dapat menggunakan metode ini untuk meningkatkan daya dukung tanahnya. Namun sayangnya metode ini masih tergolong metode mahal dan baru sehingga pengaplikasin metode ini masih minim digunakan di Indonesia.
Berikut ini adalah ringkasan metode pelaksanaan vibro replacement :
- Crane pengangkat vibrator memposisikan vibrator tepat diatas titik yang telah dilakukan lalu, bucket vibrator diisi dengan material batuan.
- Lalu crane mengangkat bucket yang telah terisi batuan dan menuangkannya kedalam alat vibrator.
- Mesin vibrator dinyalakan lalu mulai masuk ke dalam tanah, karena sifat tanah yang akan menjadi cair apabila ada getaran maka akan dengan mudah alat vibrator masuk ke dalam tanah dengan getaran yang dihasilkan.
- Setelah vibrator mencapai tanah keras selanjutnya vibrator akan menyuntikkan material batuan dan memadatkannya hingga mencapai volume yang diperlukan.
- Setelah batuan tersebut mencapai titik elevasi puncak selanjutnya dilakukan finishing dengan melakukan leveling dan pemadatan kembali.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dan video dibawah ini.
Itu saja penjelasan singkat tentang artikel metode vibro replacement untuk mencegah peristiwa likuifaksi pada bangunan yang dapat terjadi di daerah rawan gempa untuk artikel lainnya dan informasi perkuliahan teknik sipil dapat diakses di:
Daftar Pustaka :
Pandega Pratama Putra 15315299 4TA01 I Kadek Bagus Widana Putra ST., MT. Jurusan Teknik Sipil Universitas Gunadarma
Minggu, 06 Januari 2019
Selasa, 13 November 2018
Senin, 29 Oktober 2018
Senin, 26 Maret 2018
Rangkuman Ekonomi Teknik
Pengertian Ekonomi
Teknik
Ekonomi teknik adalah suatu
disiplin yang menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam melakukan judgement untuk
memilih dan menggunakan seluruh sumberdaya secara ekonomi agar dapat memberikan
benefit bagi manusia. Prinsip dasar ekonomi teknik menuntut seseorang
untuk melaksanakan keputusan dalam keterbatasan sumber daya yang ada – memilih
alternatif berdasarkan financial, material dan human resources yang
ada – untuk mendapatkan hasil (merits) yang optimal.
Proses Pengambilan
Keputusan
1.
Mengetahui Permasalahan
Proses pengambilan keputusan
berawal dari cara dari bagaimana untuk mengetahui permasalahanyang terjadi. Kemampuan
dalam mengetahui permasalahan akan menentukan bagaimana suatu keputusan akan
diambil untuk menyelesaikan permaslahan. Semakin baik kemampuan dalam
mengetahui masalah, maka semakin cepat pula masalah tersebut dapat diselesaikan.
2.
Menentukan Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai oleh
seseorang atau suatu kelompok pada dasarnya memiliki tujuan yang bersifat
universal, sebagai contoh, tujuan dari seseorang untuk hidup adalah untuk
mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan, sedangkan tujuan dari suatu badan usaha
yaitu mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Tujuan utama yang ingin dicapai
oleh seseorang atau suatu kelompok dapat berbeda-beda, hal ini yang akan
mendasari bagaimana cara untuk mencapai tujuan utama tersebut.
3.
Mencari Data Yang Relevan
Pengambilan keputusan yang baik
ditentukan dari data yang relevan yang akan digunakan. Penyusunan dan pemilihan
data harus dilakukan dengan baik. Terkadang suatu data didapat dari sebuah
pengalaman seseorang dalam menyelesaikan masalah, dimana data ini tidak bisa
didapatkan dimanapun. Keberlangsungan data tersebut juga akan menentukan bagaimana
cara pengambilan keputusan.
4.
Menentukan Alternatif
Penyelesaian
Alternatif penyelasaian masalah
dapat membantu dalam pengambilan keputusan apabila penyelesaian masalah utama
menemui jalan buntu dalam penyelesaiannya. Membuat daftar atau rencana alternatif
penyelesaian masalah dengan melakukan terobosan atau inovasi dalam
penyelesaiannya akan memberi dampak yang besar. Terkadang, alternatif penyelasaian
masalah akan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan cara penyelesaian
utama.
5.
Menentukan Kriteria Untuk
Menjelaskan Alternatif Penyelesaian
Dalam menyusun alternatif
penyelasaian masalah dibuat kriteria scenario yang akan terjadi, hal ini
memungkinkan untuk menjelaskan skala prioritas atas alternatif penyelesaian
masalah yang akan diambil, hal ini berguna untuk meningkatkan hasil dari solusi
penyelesaian dan meminialisasi kemingkunan terburuk yang akan terjadi.
6.
Membuat Model Matematis
Setelah seluruh data dikumpulkan,
maka tahap selanjutnya adalah membuat model matematis, pembuatan model
matematis akan menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi dalam sebuah scenario secara
matematis, sehingga hasilnya dapat diperhitungkan dan memiliki dasar
penyelesaiannya.
7.
Memprediksi Hasil Dari Setiap
Alternatif
Model dan data yang diambil
digunakan dalam memprediksi hasil yang akan terjadi pada setiap alternartif
penyelesaian yang diambil. Hasil dari setiap alternative akan memberikan hasil
yang berbeda. Untuk dapat menentukan alternartif terbaik harus dilakukan dengan
cara komparabel antara alternartif yang satu dengan alternartif lainnya. Setiap
alternartif yang diambil akan memiliki konsukuensinya sendiri dalam hal nonmaterial
dan material.
8.
Menentukan Solusi Terbaik
Menentukan solusi terbaik perlu
mempertimbangkan efek yang ditimbulkan dari segala aspek. Solusi terbaik yang
akan diambil harus sesuai dengan kriteria dan keadaan yang ditentukan dengan
cara mengeliminasi solusi yang tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi.
9.
Audit Hasil
Audit hasil yaitu membandingkan
hasil hasil yang akan terjadi dalam setiap prediksi yang telah dibuat. Apakah
hasil dari pengambilan keputusan sesuai dengan apa yang digambarkan? Hal ini
dapat diselesaikan dengan mengaudit hasil yang diprediksikan, sehingga
kesalahan akibat salah dalam mengambil keputusan dapat diminimalisasi. Pada
akhirnya audit hasil adalah cara untuk menggambar analisa ekonomi secara
realistis yang berguna untuk menentukan apa langkah selanjutnya yang harus
dilakukan.
Ekonomi Teknik dan
Industri Konstruksi
Dunia usaha saat ini lebih banyak bertumpu pada
aspek teknis dimana para sarjana dituntut meningkatkan keterampilan tidak saja
dalam bidang manajemen akan tetapi dalam bidang teknis operasional usaha itu
sendiri. Secara umum setiap organisasi usaha akan selalu melakukan berbagai
aktivitas yang terkait dengan produksi barang atau jasa dengan harga yang
kompetitif, pengembangan produk atau jasa yang efektif dan efisien, tingkat
keuntungan yang memadai sepadan dengan investasi yang dikeluarkan dan upaya
mempertahankan usaha agar berkesinambungan dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Berdasarkan hal tersebut calon
sarjana Teknik Sipil perlu dibekali pengetahuan yang berkaitan dengan manajemen
kuantitatif berupa pengetahuan ekonomi teknik, agar mereka mampu mengalokasikan
sumberdaya perusahaan dalam batasan waktu, modal, personalia, material, mesin
dan faktor pendukung usaha lainnya dengan efektif dan efisien dengan
mempertimbangkan profitabilitas, faktor resiko dan ketidak pastian yang mungkin
akan dihadapi dalam bidang pekerjaannya nanti.
Dalam kenyataan setiap proyek
konstruksi tidak hanya mampu diwujudkan (realizable) secara teknis, melainkan
juga harus layak (feasible) secara ekonomis. Dengan demikian analisis ekonomi
proyek merupakan suatu kajian secara ekonomi apakah suatu ide, sasaran atau
rencana suatu proyek akan diwujudkan dengan porsi yang layak secara ekonomi
(Newman, 1998).
Sumber :
Priyo, Mandiyo. 2012. Ekonomi Teknik. Yogyakarta: Penerbit LP3M UMY
Newnan, Donald G. 2004. Engineering Economic Analysis. New York: Oxford University Press
Rabu, 24 Januari 2018
Perancangan Beton SCC dengan Campuran Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi Semen
1.1 Latar Belakang
Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai batu buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang lazim dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti akan mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto, Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1).
Beton merupakan salah satu material kontruksi yang paling umum digunakan hingga saat ini. Kelebihan beton dibandingkan material lainnya adalah material beton masih lebih jauh lebih murah dari material lainnya. Selain dari faktor ekonomis, beton juga mempunyai kelebihan lainnya seperti mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Beton memiliki kelemahan dalam proses pekerjaannya seperti pada proses pemadatan beton, dalam proses pemadatan beton diperlukan bantuan getaran dan tumbukan, hal ini dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada daerah - daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat pemadat beton, akibatnya terjadi penurunan kualitas beton. Seiring perkembangan zaman maka diciptakanlah beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi sehingga tidak perlu lagi bantuan pemadatan yaitu Self Compacting Concrete (S.C.C).
Beton memadat mandiri (self compacting concrete, SCC) adalah beton yang mampu
mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi, termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat rapat. Beton ini akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat sendiri campuran beton. (Ladwing, II – M.,Woise,F.,Hemrich, W . and Ehrlich, N . 2001).
Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) adalah semen Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan semen dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu, penggantian semen dengan material baru merupakan hal yang harus segera dilakukan. Penggunaan abu terbang (Fly Ash) sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, selain dapat menghemat biaya dan lebih ramah lingkungan, Fly Ash juga dapat meningkatkan kekuatan beton.
Beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang dibuat dengan penambahan Fly Ash diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan persoalan pengecoran komponen gedung dengan bentuk geometri yang rumit serta dapat menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama, karena dengan tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) agar didapat beton dengan kualitas yang memenuhi standar mutu.
2. Berapa besar efektifitas yang dapat dihasilkan dari pengunaan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu, biaya, dan mutu.
3. Apa pengaruh yang terjadi apabila dilakukan substitusi semen dengan penggunaan abu terbang (Fly Ash).
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menentukan proporsi campuran beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang memenuhi persyaratan standar mutu.
2. Menentukan seberapa besar penghematan yang terjadi akibat penggunaan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu dan biaya.
3. Menentukan pengaruh dari penggunaan abu terbang (Fly Ash) dan kelebihannya dalam mengganti peran semen dalam campuran beton Self Compacting Concrete ( S.C.C).
Selasa, 14 November 2017
Penulisan
Perancangan
Beton SCC dengan Campuran Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi Semen
1.1 Latar Belakang
Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai
batu buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau
kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari
agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang
lazim dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti
akan mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto,
Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1).
Beton merupakan salah satu material kontruksi yang paling umum
digunakan hingga saat ini. Kelebihan beton dibandingkan material lainnya adalah
material beton masih lebih jauh lebih murah dari material lainnya. Selain dari
faktor ekonomis, beton juga mempunyai kelebihan lainnya seperti mudah dibentuk
sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Beton memiliki kelemahan dalam proses
pekerjaannya seperti pada proses pemadatan beton, dalam proses pemadatan beton diperlukan
bantuan getaran dan tumbukan, hal ini dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada
daerah - daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat
pemadat beton, akibatnya terjadi penurunan kualitas beton. Seiring perkembangan
zaman maka diciptakanlah beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi sehingga
tidak perlu lagi bantuan pemadatan yaitu Self Compacting Concrete (S.C.C).
Beton memadat mandiri (self compacting concrete, SCC)
adalah beton yang mampu
mengalir
sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat
pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton
ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture
superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya
mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan,
beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip
grafitasi, termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat
rapat. Beton ini akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan
memanfaatkan berat sendiri campuran beton. (Ladwing, II – M.,Woise,F.,Hemrich,
W . and Ehrlich, N . 2001).
Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton Self Compacting
Concrete ( S.C.C) adalah semen Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan
semen dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen
dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu,
penggantian semen dengan material baru merupakan hal yang harus segera
dilakukan. Penggunaan abu terbang (Fly
Ash) sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan beton Self
Compacting Concrete ( S.C.C) merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk
dikembangkan lebih lanjut, selain dapat menghemat biaya dan lebih ramah
lingkungan, Fly Ash juga dapat
meningkatkan kekuatan beton.
Beton
Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang dibuat dengan penambahan Fly Ash diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan persoalan
pengecoran komponen gedung dengan bentuk geometri yang rumit serta dapat
menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama, karena
dengan tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja
dan peralatan yang dibutuhkan.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana cara pembuatan
beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) agar didapat beton dengan
kualitas yang memenuhi standar mutu.
2. Berapa besar efektifitas yang dapat dihasilkan dari pengunaan
beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu, biaya, dan
mutu.
3. Apa pengaruh yang terjadi
apabila dilakukan substitusi semen dengan penggunaan abu terbang (Fly Ash).
1.3 Tujuan
Penulisan
1. Menentukan proporsi campuran
beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang memenuhi persyaratan
standar mutu.
2. Menentukan seberapa besar
penghematan yang terjadi akibat penggunaan beton Self Compacting Concrete (
S.C.C) dalam segi waktu dan biaya.
3. Menentukan pengaruh dari
penggunaan abu terbang (Fly Ash) dan
kelebihannya dalam mengganti peran semen dalam campuran beton Self
Compacting Concrete ( S.C.C).
Selasa, 03 Oktober 2017
Perancangan
Beton SCC dengan Campuran Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi Semen
1.1 Latar Belakang
Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai
batu buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau
kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari
agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang
lazim dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti
akan mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto,
Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1).
Beton merupakan salah satu material kontruksi yang paling umum
digunakan hingga saat ini. Kelebihan beton dibandingkan material lainnya adalah
material beton masih lebih jauh lebih murah dari material lainnya. Selain dari faktor
ekonomis, beton juga mempunyai kelebihan lainnya seperti mudah dibentuk sesuai
dengan bentuk yang diinginkan. Beton memiliki kelemahan dalam proses
pekerjaannya seperti pada proses pemadatan beton, dalam proses pemadatan beton diperlukan
bantuan getaran dan tumbukan, hal ini dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada
daerah - daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat pemadat
beton, akibatnya terjadi penurunan kualitas beton. Seiring perkembangan zaman
maka diciptakanlah beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi sehingga tidak
perlu lagi bantuan pemadatan yaitu Self Compacting Concrete (S.C.C).
Beton memadat mandiri (self compacting concrete, S.C.C)
adalah beton yang mampu mengalir
sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat
pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton
ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture
superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya
mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan,
beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip
grafitasi, termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat
rapat. Beton ini akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan
memanfaatkan berat sendiri campuran beton. (Ladwing, II – M.,Woise,F.,Hemrich,
W . and Ehrlich, N . 2001).
Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton Self Compacting
Concrete (S.C.C) adalah semen Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan
semen dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen
dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu,
penggantian semen dengan material baru merupakan hal yang harus segera
dilakukan. Penggunaan abu terbang (Fly
Ash) sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan beton Self
Compacting Concrete (S.C.C) merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk
dikembangkan lebih lanjut, selain dapat menghemat biaya dan lebih ramah
lingkungan, Fly Ash juga dapat
meningkatkan kekuatan beton.
Beton
Self Compacting Concrete (S.C.C) yang dibuat dengan penambahan Fly Ash diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan persoalan
pengecoran komponen gedung dengan bentuk geometri yang rumit serta dapat
menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama, karena dengan
tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja dan
peralatan yang dibutuhkan.
Rabu, 19 Juli 2017
Presentasi Kelompok
Rangkuman Presentasi Kelompok
Pada tanggal 26 Juni 2017 telah dilakukan presentasi mata kuliah Operations Research (RO). Operational Research (OR) adalah suatu aktivitas (riset operasional) yang berkenaan dengan penggunaan sumber-sumber yang terbatas secara efisien.
Bagian-bagian dalam riset operasi diantaranya ProgramLinear, Model Tranportasi dan Transhipment, Model Asignment, Analisa Jaringan, Teori Antrian, Perencanaan dan pengendalian: PERT-CPM, Game Theory, Inventori Control, dan Dynamic Programming.
Saya berada dikelompok, saya membawakan materi presentasi Model Assignment. Evaluasi yang saya akan lakukan berdasarkan saran dari audience yaitu power point dibuat lebih menarik lagi, menampilkan materi yang lebih baik lagi, pada umumnya dan cara penyampaian materi lebih rapi terutama pada materi yang saya bawakan yaitu Model Assignment.
Pada tanggal 26 Juni 2017 telah dilakukan presentasi mata kuliah Operations Research (RO). Operational Research (OR) adalah suatu aktivitas (riset operasional) yang berkenaan dengan penggunaan sumber-sumber yang terbatas secara efisien.
Bagian-bagian dalam riset operasi diantaranya ProgramLinear, Model Tranportasi dan Transhipment, Model Asignment, Analisa Jaringan, Teori Antrian, Perencanaan dan pengendalian: PERT-CPM, Game Theory, Inventori Control, dan Dynamic Programming.
Saya berada dikelompok, saya membawakan materi presentasi Model Assignment. Evaluasi yang saya akan lakukan berdasarkan saran dari audience yaitu power point dibuat lebih menarik lagi, menampilkan materi yang lebih baik lagi, pada umumnya dan cara penyampaian materi lebih rapi terutama pada materi yang saya bawakan yaitu Model Assignment.
Minggu, 09 Juli 2017
Senin, 03 Juli 2017
Sabtu, 25 Maret 2017
Riset Operasi
A.
Pengertian Riset Operasi.
Arti riset operasi (operations research) telah banyak didefinisikan oleh
beberapa ahli.
1
. Morse dan Kimball
Mendefinisikan
riset operasi sebagai metode ilmiah (scientific method) yang memungkinkan para
manajer mengambil keputusan mengenai kegiatan yang mereka tangani dengan dasar
kuantitatif. Definisi ini kurang tegas karena tidak tercermin perbedaan antara
riset operasi dengan disiplin ilmu yang lain.
2. Churchman,
Arkoff dan Arnoff
Pada
tahun 1950-an mengemukakan pengertian riset operasi sebagai aplikasi
metode-metode, teknik-teknik dan peralatan-peralatan ilmiah dalam menghadapi
masalah-masalah yang timbul di dalam operasi perusahaan dengan tujuan
ditemukannya pemecahan yang optimum masalah-masalah tersebut.
3. Miller dan M.K.
Starr
Mengartikan
riset operasi sebagai peralatan manajemen yang menyatukan ilmu pengetahuan,
matematika, dan logika dalam kerangka pemecahan masalah-masalah yang dihadapi
sehari-hari, sehingga akhirnya permasalahan tersebut dapat dipecahkan secara
optimal.
4. Mc
Closky dan Trefthen
Mengartikan
Riset Operasional sebagai suatu metode pengambilan keputusan yang dikembangkan
dari studi operasi-operasi militer selama Perang Dunia II.
5. S.L
Cook
Operations
research dijelaskan sebagai suatu metode, suatu pendekatan, seperangkat teknik,
sekelompok kegiatan, suatu kombinasi beberapa disiplin, suatu perluasan dari
disipilin-disiplin utama (matematika, teknik, ekonomi), suatu disiplinbaru,
suatu lapangan kerja, bahkan suatu agama.
B. Tujuan Riset Operasi.
Riset Operasi adalah metode untuk memformulasikan
dan merumuskan permasalahan sehari-hari baik mengenai bisnis, ekonomi, sosial
maupun bidang lainnya ke dalam pemodelan matematis untuk mendapatkan solusi
yang optimal.
Bagian terpenting dari Riset Operasi adalah
bagaimana menerjemahkan permasalahan sehari-hari ke dalam model matematis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemodelan harus disederhanakan dan apabila ada
data yangkurang, kekurangan tersebut dapat diasumsikan atau diisi dengan
pendekatan yang bersifat rasional.
Dalam Riset Operasi diperlukan ketajaman berpikir
dan logika.Untuk mendapatkan solusi yang optimal dan memudahkan kita
mendapatkanhasil, kita dapat menggunakan komputer. Software yang dapat
digunakan antara lain: LINDO (Linear, Interactive and Discrete Optimizer) dan
POM ForWindows.
Program linear adalah salah satu model matematika
Riset operasi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah optimisasi, yaitu
memaksimumkan atau meminimumkan fungsi tujuan yang bergantung pada sejumlah
variabel input. Hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu
tujuan penyelesaian masalah dan apa penyebab masalah tersebut.
C. Manfaat Penggunaan Riset Operasi.
1.Merupakan alat untuk pengambilan keputusan dari berbagai
sumber daya yang tersedia.
2.Riset oprasi berusaha menetapkan arah tindakan terbaik
(optimum) dari sebuah masalah
keputusan dibawah pembatasan sumber daya terbatas.
3.Memberikan pengembangan dari beberapa sektor, seperti teknik
dan ilmu perhitungan, ilmu politik, matematik, ekonomi, teori probabilitas dan
statistik
4. Memberikan kemudahan dalam pengambilan keputusan kegiatan
kerja dalam bidang industri, bisnis, dan manajemen.
D. Sejarah Riset Operasi.
Sejarah Riset Operasi berawal selama perang
dunia ke II yang sangat efektif sebagai metode penyelesaian masalah militer
dengan mengoptimalkan kekuatan militer dalam menggunakan peralatan perang
secara efisien.
Setelah bidang militer yang sudah dinyatakan sukses, industri secara bertahap
mengaplikasi penggunaan riset operasi, pada tahun 1951 dunia industri dan
bisnis dalam riset operasinya memberikan dampak besar pada organisasi
manajemen.
Dan perkembangannya kini berada pada aspek pembagian kerja dan segmentasi
tanggungjawab manajemen dalam organisasi, yang bergantung pada perkembangan
teknologi, dan faktor lain seperti keadaan ekonomi, politik, sosial dan
sebagainya secara sistematis.
E. Contoh Penggunaan Riset Operasi.
Aplikasi riset operasional tentunya dibutuhkan
dalam pengambilan keputusan. Dalam permasalahan yang kompleks pengambilan
keputusan tidak lagi ditunjang hanya oleh intuisi pimpinan (management)
melainkan didukung oleh hasil analisis dari kumpulan data yang ada. Pembuatan
keputusan merupakan bagian kunci kegiatan eksekutif, manajer, karyawan, setiap
manusia dalam kehidupannya. Dalam permasalahan dari berbagai bidang yang telah
dianalisis oleh perkembangan riset operasi dewasa ini, banyak sektor-sektor
aplikasi yang mengalami kemajuan yang pesat didukung teknologi dalam sumber
informasi menurut Siang (2009:3) antara lain:
1. Keuangan
Analisis
cash flow, investasi, Aturan pembelian bahan dengan harga bervariasi, penentuan
kuantitas dan waktu pembelian, strategi ekplorasi dan eksploitasi bahan mentah,
kebijakan pergantian barang.
2. Distribusi
Lokasi
dan ukuran gedung, pusat distribusi, mikro distribusi, kebijakan distribusi,
logistik dan sistem distribusi.
3. Perencanaan
Jumlah,
ukuran, lokasi, dll. Beserta dengan interaksi didalamnya.
4. Industri
Perencanaan
industri, stabilisasi produksi karyawan, training, dll.
5. Manajemen
Konstruksi
Kebijakan
maintenance, jumlah karyawan maintenance, pengaturan proyek, alokasi sumber
karya.
6. Marketing
Pemilihan
produk, timing, perlakuan terhadap kompetitor, penentuan jumlah salesman,
strategi periklanan.
7. Personel
Pemilihan
personil, gabungan, antara umur dan keterampilan, kebijakan penerimaan
karyawan, pembagian karyawan.
Aplikasi riset operasi memiliki dampak yang kuat
dalam studi masalah sosial dan pekerjaan umum. Orang lebih sadar tentang
bagaimana riset operasi dapat membantu aktivitas pengambilan keputusan
sehari-hari. Aplikasi dalam kesehatan masyarakat, perencanaan kota, dan sistem
pendidikan kini sudah ditemukan.
Model keputusan merupakan alat yang menggambarkan
permasalahan keputusan sedemikian rupa sehingga memungkinkan identifikasi dan
evaluasi sistematik semua alternatif keputusan yang tersedia. Salah satu teknik
yang digunakan untuk menganalisis alternatif keputusan adalah Riset
Operasional. Riset Operasional merupakan metode pengoptimalan proses pengambilan
keputusan yang dibatasi ketersediaan sumber daya. Penggunaan riset operasional
sangat luas, pendekatannya menggunakan metode ilmiah. Proses pengoptimalan
mulai dengan pengamatan yang mendalam dan formulasi masalah lalu diikuti dengan
pembentukan model ilmiah (khususnya model matematik) yang menggambarkan inti
sistem nyata. Model yang dibentuk harus mencukupi sebagai representasi tepat
sifat-sifat penting situasi, sehingga kesimpulan yang ditarik dari model valid
untuk permasalahan nyata. Kontribusi riset operasional berasal dari :
1. Penstrukturan
situasi dunia nyata ke model matematik, menggambarkan elemen penting sehingga
penyelesaian yang relevan ke tujuan pengambil keputusan diperoleh, termasuk
mencari permasalahan dalam konteks keseluruhan sistem.
2. Mengeksplor
struktur setiap penyelesaian dan mengembangkan prosedur sistematis untuk
mendapatkannya.
3. Mengembangkan
suatu penyelesaian, termasuk teori matematik jika perlu, yang menghasilkan
nilai optimal ukuran sistem yang diinginkan (atau mungkin membandingkan
alternatif tindakan dengan mengevaluasi ukuran yang diinginkan).
Dilihat dari data yang digunakan untuk
memfasilitasi, pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi keputusan pasti,
berisiko dan tidak pasti. Keputusan pasti didukung oleh data-data pasti.
Diantara keputusan pasti dan tidak pasti ada keputusan beresiko. Pengambilan
keputusan berisiko didukung oleh data yang tidak pasti, tetapi ketidakpastian
itu dapat dinyatakan dalam bentuk peluang.
Optimasi adalah proses pencarian solusi yang
terbaik; tidak selalu keuntungan paling tinggi yang bisa dicapai jika tujuan
pengoptimalan adalah memaksimumkan keuntungan; atau tidak selalu biaya paling
kecil yang bisa ditekan jika tujuan pengoptimalan adalah meminimumkan biaya.
Tiga elemen permasalahan optimasi yang harus diidentifikasi, yaitu tujuan,
alternatif keputusan dan sumber daya yang membatasi. Tujuan bisa berbentuk
maksimisasi atau minimisasi. Bentuk maksimisasi digunakan jika tujuan
pengoptimalan berhubungan dengan keuntungan, penerimaan dan sejenisnya.
Sedangkan bentuk minimisasi akan dipilih jika tujuan pengoptimalan berhubungan
dengan biaya, waktu, jarak dan sejenisnya
Sumber:
Selasa, 03 Januari 2017
Papua Nugini Protes TNI Bergeming
Media Indonesia (21 Feb 2013, Hal 01)
Papua Nugini menyatakan gerah dan memprotes aktivitas militer Indonesia di perbatasan yang diklaim membahayakan keamanan nasional mereka. Dalam menanggapi itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan soal perbatasan kedua negara.
Perdana Menteri Papua Nugini (PNG) Peter O'Neill menyatakan pihaknya telah menemukan bukti pelanggaran yang dilakukan TNI di wilayahnya, di antaranya adanya pembangunan pos-pos dan dermaga militer serta sebuah mercusuar TNI di Muara Sungai Torassi yang masuk wilayah PNG.
Karena itu, O'Neill telah memerintahkan Menteri Luar Negeri Rimbink Pato untuk segera melayangkan protes terhadap Indonesia. Terkait dengan itu pula. PNG telah meminta bantuan Australia untuk mengembangkan fasilitas pertahanan mereka di perbatasan. ''Kegagalan di pihak kami ialah tidak mengembangkan daerah perbatasan dalam sebuah pendekatan holistik," ujar Menteri Penahanan PNG Fabian Pok. Menurut siaran Radio Internasional Selandia Baru (RNZI), kemarin, Pok sudah berbicara dengan pejabat Australia dan mendapat indikasi akan mendapat bantuan.
Sebelumnya, demi melindungi kepentingan teritorialnya, pemerintah PNG akan memperkuat armada pertahanan mereka di kawasan yang berbatasan dengan Indonesia. Rencana itu akan meningkatkan jumlah pasukan hingga 10 ribu personel, disertai armada dan perlengkapan pendukung pertahanan.
94 pos penjagaan
Saat menanggapi ulah PNG itu, Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyatakan tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Bahkan, TNI juga tidak mempermasalahkan rencana PNG menambah pasukan mereka di perbatasan. "Selama ini kita baik. Soal ada penambahan pasukan PNG atau bantuan asing, itu kewenangan mereka," katanya.
Menurut Iskandar, TNI memiliki 94 pos penjagaan diperbatasan yang terbentang dari wilayah pegunungan Bintang, Bovan Digul, Jayapura, Arso, dan Kabupaten Kerom. "Soal detailnya, kami tidak bisa beberkan. Pokoknya ada beberapa batalion di 94 pos penjagaan," paparnya.
Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Jansen Simanjuntak menjelaskan ada ratusan patok batas negara RI-PNG yang diakui oleh kedua negara. Menurutnya, hingga saat ini tidak ada masalah, apalagi soal sengketa batas negara.
Menurut Jansen, semua aktivitas masyarakat di wilayah perbatasan RI-PNG di bawah pengawasan masing-masing. Dia mengakui terkadang memang ada tindakan pelanggaran hukum yang terjadi di wilayah perbatasan RI-PNG. Namun, lanjutnya, sejauh ini semua itu dalam batas wajar. "Di perbatasan, khususnya daerah Kota Jayapura di Skow Wutung, ada pasar perbatasan yang setiap harinya terjadi transaksi jual beli di antara warga kedua negara," tuturnya.
Ketika mengomentari persoalan perbatasan itu, pengamat internasional dari Unpar Bandung, Andreas Hugo Pareira, mengatakan Indonesia harus serius menyikapinya. (Post Courier/The National/SW/MC/ Kid/Iwa/X-5) Dika Dania Kardi, dika@mediaindonesia.com.
Sumber: Koran Media Indonesia (21 Feb 2013, Hal 01)
Tanggapan:
Sengketa anatara perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini memang sangat mungkin terjadi mengingat perbatasan tersebut hanya memiliki tanda batas yang rancu dan pintu perbatasan yang seadanya. Konflik akibat dampak dari sengketa perbatasan tersebut dapat mengakibatkan pecah belah masyarakat disana, belum lagi apabila ada provokator yang ingin memecah belah, mengingat adanya kesenjangan masyarakat Papua dengan masyarakat lain di Indonesia. Maka dari itu pemerintah Indonesia dan Papua Nugini harus saling berkoordinasi agar tidak timbul kesalahpahaman, serta apabila terjadi konflik perbatasan harus di selesaikan secara baik tanpa mengorbankan rakyat sipil di kedua negara. Serta semua kalangan harus segera memantau di titik perbatasan RI dan Papua Nugini guna kontrol bersama agar tidak terjadi penyelesaian masalah, terutama penekanan pada profesionalisme aparat militer dalam penyelesaian kasus sengketa perbatasan.
Hanya di Denmark: Konglomerat Bertekuk Lutut di Depan Petani! Bag 2
Koperasi: Ratusan Tahun Mendominasi Ekonomi
Tabel-1. Beberapa jenis koperasi yang menguasai produk susu, daging, supply pertanian dan yang berhubungan dengan pertanian (Sumber: Danish Agriculture & Food Council, 2014)
Koperasi di Denmark, sebenarnya adalah semangat “gotong royong” seperti di kita. Koperasi muncul karena kebutuhan untuk saling bantu, gotong royong dalam mengelola ladang yang luas.
Pada tahun 1300-an, pandemic yang disebut “black death” menyebabkan kematian ratusan juta jiwa, lebih dari 60% populasi Eropa punah karena pandemic yang disebabkan oleh sejenis bakteri. Setelah dianalisa DNA korban, pada tahun 2010, diketahui penyebab pandemic adalah bakteri jenis “Yersinia pestis”.
Denmark tak terkecuali, kematian penduduk yang lebih separuh menyebabkan ladang ladang kosong. Pemerintah kemudian mengeluarkan aturan bahwa tanah tanah yang kosong, tak boleh dimiliki swasta. Ladang ladang tersebut dibagi bagikan ke petani sesuai dengan jumlah anggota keluarga.
Petani seperti dapat durian runtuh, tiba tiba punya ladang yang sangat luas. Dari sinilah muncul ide “koperasi.” Koperasi kemudian berkembang ke berbagai unit usaha yang mendominasi ekonomi Denmark sampai ratusan tahun.
Diantara koperasi yang omset penjualannya besar tahun 2013 adalah (lihat Tabel di atas):
1. Arla Food (dairy), penjualan pertahun sebesar DKK 73,6 Milyar (Rp 147,2 Triliun)
2. Danish Crown (daging), penjualan pertahun DKK 58,03 (Rp 116 Triliun)
3. DLG (farm supply), penjualan pertahun DKK 59,1 (Rp 118 Triliun)
4. Kopenhagen Fur Center, penjualan pertahun DKK 13,3 (Rp 26,6 Triliun)
Produksi Pertanian 3 Kali Dari Kebutuhan
Banyak negara, termasuk Indonesia belum swasembada pangan (kejadiannya: tak pernah, pernah swasembada, kemudian tidak swasembada lagi), tapi Denmark menghasilkan pangan 3 kali lipat dari kebutuhan penduduknya. Artinya produksi pangan Denmark melimpah ruah. 30% untuk konsumsi sendiri, sisanya (70%) diekspor ke 100 negara di berbagai penjuru dunia. Ada juga disumbangkan sebagai bantuan luar negeri Denmark (DANIDA) ke negara negara Afrika atau negara yang kekurangan pangan.
Grafik. Persantase produk pertanian yang diekspor dibandingkan dengan total produksi (sumber: Danish Agriculture & Food Council, 2012) Dari Grafik di atas, terlihat bahwa 90% keju diekspor, hanya 10% saja dikonsumsi sendiri. Sebaliknya, 28% grain (biji bijian) diekspor, kebanyakannya (72%) dikonsumsi sendiri. Tapi, lebih banyak produk untuk ekspor dari pada dikonsumsi sendiri. Akhirnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari Denmark, mulai dari pemberdayaan petani (sehingga lebih kuat dari konglomerat) sampai ke usaha pengadaan pangan yang melimpah ruah!
Sumber : http://www.kompasiana.com/terlambang/hanya-di-denmark-konglomerat-bertekuk-lutut-di-depan-petani_5694643c02b0bd840503e01f
Langganan:
Postingan (Atom)






