Gunadarma

Uug

Rabu, 16 Januari 2019

Metode Vibro Replacement untuk Mencegah Peristiwa Likuifaksi pada Bangunan yang dapat Terjadi di Daerah Rawan Gempa (Universitas Gunadarma Review)

Metode Vibro Replacement untuk Mencegah Peristiwa Likuifaksi pada Bangunan yang dapat Terjadi di Daerah Rawan Gempa. 

Peristiwa likuifaksi adalah peristiwa dimana tanah yang sebelumnya jenuh air atau agak jenuh air tiba-tiba kehilangan daya dukung dan kekakuannya akibat adanya tegangan yang terjadi pada tanah tersebut misalnya, gempa bumi. Sehingga tanah yang tadinya berbentuk padat berubah menjadi berbentuk cair dan kehilangan kekuatannya. 

Untuk mensiasati agar tetap dapat membangun bangunan didaerah rawan terjadi likuifaksi maka, digunakan metode vibro soil replacement dimana, sesuai Namanya, metode ini mengganti tanah yang rawan terjadi likuifaksi dengan material batuan cth: batu pecah. Penggantian tanah dengan material granular batuan dilakukan hanya sebatas luas perletakan pondasi atau seluas pile cap dengan kedalaman hingga mencapai tanah keras. 

Material batuan memiliki daya porositas tinggi sehingga, memiliki kemampuan sebagai jalannya air pada saat terjadi gempa dimana air yang tadinya akan naik ke permukaan melalui pori-pori tanah dapat keluar melalui lapisan batuan tersebut dan tanah pada lapisan atasnya tidak menjadi tanah yang jenuh air yang mengakibatkan tanah akan berubah wujud menjadi cair. 

Metode ini juga dipakai untuk meningkatkan daya dukung tanah terutama untuk perencanaan bangunan yang membutuhkan tipe pondasi dangkal pada perencanaanya. Untuk pembangunan di daerah tanah gambut juga dapat menggunakan metode ini untuk meningkatkan daya dukung tanahnya. Namun sayangnya metode ini masih tergolong metode mahal dan baru sehingga pengaplikasin metode ini masih minim digunakan di Indonesia. Berikut ini adalah ringkasan metode pelaksanaan vibro replacement : 
  1. Crane pengangkat vibrator memposisikan vibrator tepat diatas titik yang telah dilakukan lalu, bucket vibrator diisi dengan material batuan. 
  2. Lalu crane mengangkat bucket yang telah terisi batuan dan menuangkannya kedalam alat vibrator.
  3. Mesin vibrator dinyalakan lalu mulai masuk ke dalam tanah, karena sifat tanah yang akan menjadi cair apabila ada getaran maka akan dengan mudah alat vibrator masuk ke dalam tanah dengan getaran yang dihasilkan. 
  4. Setelah vibrator mencapai tanah keras selanjutnya vibrator akan menyuntikkan material batuan dan memadatkannya hingga mencapai volume yang diperlukan. 
  5. Setelah batuan tersebut mencapai titik elevasi puncak selanjutnya dilakukan finishing dengan melakukan leveling dan pemadatan kembali. 

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dan video dibawah ini.






Itu saja penjelasan singkat tentang artikel metode vibro replacement untuk mencegah peristiwa likuifaksi pada bangunan yang dapat terjadi di daerah rawan gempa untuk artikel lainnya dan informasi perkuliahan teknik sipil dapat diakses di: 

Daftar Pustaka :

Pandega Pratama Putra 15315299 4TA01 I Kadek Bagus Widana Putra ST., MT. Jurusan Teknik Sipil Universitas Gunadarma 


Senin, 26 Maret 2018

Rangkuman Ekonomi Teknik


Pengertian Ekonomi Teknik
Ekonomi teknik adalah suatu disiplin yang menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam melakukan judgement untuk memilih dan menggunakan seluruh sumberdaya secara ekonomi agar dapat memberikan benefit bagi manusia. Prinsip dasar ekonomi teknik menuntut seseorang untuk melaksanakan keputusan dalam keterbatasan sumber daya yang ada – memilih alternatif berdasarkan financial, material dan human resources yang ada – untuk mendapatkan hasil (merits) yang optimal.

Proses Pengambilan Keputusan

1.        Mengetahui Permasalahan
Proses pengambilan keputusan berawal dari cara dari bagaimana untuk mengetahui permasalahanyang terjadi. Kemampuan dalam mengetahui permasalahan akan menentukan bagaimana suatu keputusan akan diambil untuk menyelesaikan permaslahan. Semakin baik kemampuan dalam mengetahui masalah, maka semakin cepat pula masalah tersebut dapat diselesaikan.

2.        Menentukan Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang atau suatu kelompok pada dasarnya memiliki tujuan yang bersifat universal, sebagai contoh, tujuan dari seseorang untuk hidup adalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan, sedangkan tujuan dari suatu badan usaha yaitu mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Tujuan utama yang ingin dicapai oleh seseorang atau suatu kelompok dapat berbeda-beda, hal ini yang akan mendasari bagaimana cara untuk mencapai tujuan utama tersebut.

3.        Mencari Data Yang Relevan
Pengambilan keputusan yang baik ditentukan dari data yang relevan yang akan digunakan. Penyusunan dan pemilihan data harus dilakukan dengan baik. Terkadang suatu data didapat dari sebuah pengalaman seseorang dalam menyelesaikan masalah, dimana data ini tidak bisa didapatkan dimanapun. Keberlangsungan data tersebut juga akan menentukan bagaimana cara pengambilan keputusan.

4.        Menentukan Alternatif Penyelesaian
Alternatif penyelasaian masalah dapat membantu dalam pengambilan keputusan apabila penyelesaian masalah utama menemui jalan buntu dalam penyelesaiannya. Membuat daftar atau rencana alternatif penyelesaian masalah dengan melakukan terobosan atau inovasi dalam penyelesaiannya akan memberi dampak yang besar. Terkadang, alternatif penyelasaian masalah akan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan cara penyelesaian utama.

5.        Menentukan Kriteria Untuk Menjelaskan Alternatif Penyelesaian
Dalam menyusun alternatif penyelasaian masalah dibuat kriteria scenario yang akan terjadi, hal ini memungkinkan untuk menjelaskan skala prioritas atas alternatif penyelesaian masalah yang akan diambil, hal ini berguna untuk meningkatkan hasil dari solusi penyelesaian dan meminialisasi kemingkunan terburuk yang akan terjadi.

6.        Membuat Model Matematis
Setelah seluruh data dikumpulkan, maka tahap selanjutnya adalah membuat model matematis, pembuatan model matematis akan menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi dalam sebuah scenario secara matematis, sehingga hasilnya dapat diperhitungkan dan memiliki dasar penyelesaiannya.

7.        Memprediksi Hasil Dari Setiap Alternatif
Model dan data yang diambil digunakan dalam memprediksi hasil yang akan terjadi pada setiap alternartif penyelesaian yang diambil. Hasil dari setiap alternative akan memberikan hasil yang berbeda. Untuk dapat menentukan alternartif terbaik harus dilakukan dengan cara komparabel antara alternartif yang satu dengan alternartif lainnya. Setiap alternartif yang diambil akan memiliki konsukuensinya sendiri dalam hal nonmaterial dan material.

8.        Menentukan Solusi Terbaik
Menentukan solusi terbaik perlu mempertimbangkan efek yang ditimbulkan dari segala aspek. Solusi terbaik yang akan diambil harus sesuai dengan kriteria dan keadaan yang ditentukan dengan cara mengeliminasi solusi yang tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi.

9.        Audit Hasil
Audit hasil yaitu membandingkan hasil hasil yang akan terjadi dalam setiap prediksi yang telah dibuat. Apakah hasil dari pengambilan keputusan sesuai dengan apa yang digambarkan? Hal ini dapat diselesaikan dengan mengaudit hasil yang diprediksikan, sehingga kesalahan akibat salah dalam mengambil keputusan dapat diminimalisasi. Pada akhirnya audit hasil adalah cara untuk menggambar analisa ekonomi secara realistis yang berguna untuk menentukan apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan.  

Ekonomi Teknik dan Industri Konstruksi
            Dunia usaha saat ini lebih banyak bertumpu pada aspek teknis dimana para sarjana dituntut meningkatkan keterampilan tidak saja dalam bidang manajemen akan tetapi dalam bidang teknis operasional usaha itu sendiri. Secara umum setiap organisasi usaha akan selalu melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan produksi barang atau jasa dengan harga yang kompetitif, pengembangan produk atau jasa yang efektif dan efisien, tingkat keuntungan yang memadai sepadan dengan investasi yang dikeluarkan dan upaya mempertahankan usaha agar berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berdasarkan hal tersebut calon sarjana Teknik Sipil perlu dibekali pengetahuan yang berkaitan dengan manajemen kuantitatif berupa pengetahuan ekonomi teknik, agar mereka mampu mengalokasikan sumberdaya perusahaan dalam batasan waktu, modal, personalia, material, mesin dan faktor pendukung usaha lainnya dengan efektif dan efisien dengan mempertimbangkan profitabilitas, faktor resiko dan ketidak pastian yang mungkin akan dihadapi dalam bidang pekerjaannya nanti.
Dalam kenyataan setiap proyek konstruksi tidak hanya mampu diwujudkan (realizable) secara teknis, melainkan juga harus layak (feasible) secara ekonomis. Dengan demikian analisis ekonomi proyek merupakan suatu kajian secara ekonomi apakah suatu ide, sasaran atau rencana suatu proyek akan diwujudkan dengan porsi yang layak secara ekonomi (Newman, 1998).

Sumber : 
Priyo, Mandiyo. 2012. Ekonomi Teknik. Yogyakarta: Penerbit LP3M UMY
Newnan, Donald G. 2004. Engineering Economic Analysis. New York: Oxford University Press














Rabu, 24 Januari 2018

Perancangan Beton SCC dengan Campuran Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi Semen


1.1       Latar Belakang

Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai batu buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang lazim dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti akan mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto, Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1).
Beton merupakan salah satu material kontruksi yang paling umum digunakan hingga saat ini. Kelebihan beton dibandingkan material lainnya adalah material beton masih lebih jauh lebih murah dari material lainnya. Selain dari faktor ekonomis, beton juga mempunyai kelebihan lainnya seperti mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Beton memiliki kelemahan dalam proses pekerjaannya seperti pada proses pemadatan beton, dalam proses pemadatan beton diperlukan bantuan getaran dan tumbukan, hal ini dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada daerah - daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat pemadat beton, akibatnya terjadi penurunan kualitas beton. Seiring perkembangan zaman maka diciptakanlah beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi sehingga tidak perlu lagi bantuan pemadatan yaitu Self Compacting Concrete (S.C.C).
Beton memadat mandiri (self compacting concrete, SCC) adalah beton yang mampu
mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi, termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat rapat. Beton ini akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat sendiri campuran beton. (Ladwing, II – M.,Woise,F.,Hemrich, W . and Ehrlich, N . 2001).
Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) adalah semen Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan semen dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu, penggantian semen dengan material baru merupakan hal yang harus segera dilakukan. Penggunaan abu terbang (Fly Ash) sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, selain dapat menghemat biaya dan lebih ramah lingkungan, Fly Ash juga dapat meningkatkan kekuatan beton.
Beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang dibuat dengan penambahan Fly Ash diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan persoalan pengecoran komponen gedung dengan bentuk geometri yang rumit serta dapat menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama, karena dengan tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan.
  
1.2       Rumusan Masalah
1.  Bagaimana cara pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) agar didapat   beton dengan kualitas yang memenuhi standar mutu.  
2. Berapa besar efektifitas yang dapat dihasilkan dari pengunaan beton Self   Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu, biaya, dan mutu.
3.  Apa pengaruh yang terjadi apabila dilakukan substitusi semen dengan penggunaan   abu terbang (Fly Ash).

1.3       Tujuan Penulisan
1. Menentukan proporsi campuran beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang  memenuhi persyaratan standar mutu.
2. Menentukan seberapa besar penghematan yang terjadi akibat penggunaan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu dan biaya.
3. Menentukan pengaruh dari penggunaan abu terbang (Fly Ash) dan kelebihannya dalam mengganti peran semen dalam campuran beton Self Compacting Concrete ( S.C.C).

Selasa, 14 November 2017

Penulisan

Perancangan Beton SCC dengan Campuran Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi Semen

1.1       Latar Belakang

Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai batu buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang lazim dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti akan mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto, Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1).
Beton merupakan salah satu material kontruksi yang paling umum digunakan hingga saat ini. Kelebihan beton dibandingkan material lainnya adalah material beton masih lebih jauh lebih murah dari material lainnya. Selain dari faktor ekonomis, beton juga mempunyai kelebihan lainnya seperti mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Beton memiliki kelemahan dalam proses pekerjaannya seperti pada proses pemadatan beton, dalam proses pemadatan beton diperlukan bantuan getaran dan tumbukan, hal ini dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada daerah - daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat pemadat beton, akibatnya terjadi penurunan kualitas beton. Seiring perkembangan zaman maka diciptakanlah beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi sehingga tidak perlu lagi bantuan pemadatan yaitu Self Compacting Concrete (S.C.C).
Beton memadat mandiri (self compacting concrete, SCC) adalah beton yang mampu
mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi, termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat rapat. Beton ini akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat sendiri campuran beton. (Ladwing, II – M.,Woise,F.,Hemrich, W . and Ehrlich, N . 2001).
Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) adalah semen Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan semen dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu, penggantian semen dengan material baru merupakan hal yang harus segera dilakukan. Penggunaan abu terbang (Fly Ash) sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, selain dapat menghemat biaya dan lebih ramah lingkungan, Fly Ash juga dapat meningkatkan kekuatan beton.
Beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang dibuat dengan penambahan Fly Ash diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan persoalan pengecoran komponen gedung dengan bentuk geometri yang rumit serta dapat menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama, karena dengan tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan.
  
1.2       Rumusan Masalah
1.  Bagaimana cara pembuatan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) agar didapat   beton dengan kualitas yang memenuhi standar mutu.  
2. Berapa besar efektifitas yang dapat dihasilkan dari pengunaan beton Self   Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu, biaya, dan mutu.
3.  Apa pengaruh yang terjadi apabila dilakukan substitusi semen dengan penggunaan   abu terbang (Fly Ash).

1.3       Tujuan Penulisan
1. Menentukan proporsi campuran beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) yang  memenuhi persyaratan standar mutu.
2. Menentukan seberapa besar penghematan yang terjadi akibat penggunaan beton Self Compacting Concrete ( S.C.C) dalam segi waktu dan biaya.
3. Menentukan pengaruh dari penggunaan abu terbang (Fly Ash) dan kelebihannya dalam mengganti peran semen dalam campuran beton Self Compacting Concrete ( S.C.C).

Selasa, 03 Oktober 2017

Perancangan Beton SCC dengan Campuran Fly Ash Sebagai Bahan Substitusi Semen

1.1     Latar Belakang

Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai batu buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang lazim dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti akan mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto, Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1).
Beton merupakan salah satu material kontruksi yang paling umum digunakan hingga saat ini. Kelebihan beton dibandingkan material lainnya adalah material beton masih lebih jauh lebih murah dari material lainnya. Selain dari faktor ekonomis, beton juga mempunyai kelebihan lainnya seperti mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Beton memiliki kelemahan dalam proses pekerjaannya seperti pada proses pemadatan beton, dalam proses pemadatan beton diperlukan bantuan getaran dan tumbukan, hal ini dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada daerah - daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat pemadat beton, akibatnya terjadi penurunan kualitas beton. Seiring perkembangan zaman maka diciptakanlah beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi sehingga tidak perlu lagi bantuan pemadatan yaitu Self Compacting Concrete (S.C.C).
Beton memadat mandiri (self compacting concrete, S.C.C) adalah beton yang mampu mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi, termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat rapat. Beton ini akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat sendiri campuran beton. (Ladwing, II – M.,Woise,F.,Hemrich, W . and Ehrlich, N . 2001).
Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete (S.C.C) adalah semen Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan semen dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu, penggantian semen dengan material baru merupakan hal yang harus segera dilakukan. Penggunaan abu terbang (Fly Ash) sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan beton Self Compacting Concrete (S.C.C) merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, selain dapat menghemat biaya dan lebih ramah lingkungan, Fly Ash juga dapat meningkatkan kekuatan beton.
Beton Self Compacting Concrete (S.C.C) yang dibuat dengan penambahan Fly Ash diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan persoalan pengecoran komponen gedung dengan bentuk geometri yang rumit serta dapat menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama, karena dengan tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan.




Rabu, 19 Juli 2017

Presentasi Kelompok

Rangkuman Presentasi Kelompok 

Pada tanggal 26 Juni 2017 telah dilakukan presentasi mata kuliah Operations Research (RO). Operational  Research (OR) adalah suatu aktivitas (riset operasional) yang berkenaan dengan  penggunaan sumber-sumber yang terbatas secara efisien.
Bagian-bagian dalam riset operasi diantaranya ProgramLinear, Model Tranportasi dan Transhipment, Model Asignment, Analisa Jaringan, Teori Antrian, Perencanaan dan pengendalian: PERT-CPM, Game Theory, Inventori Control, dan Dynamic Programming. 
Saya berada dikelompok, saya membawakan materi presentasi Model Assignment. Evaluasi yang saya akan lakukan berdasarkan saran dari audience yaitu power point dibuat lebih menarik lagi, menampilkan materi yang lebih baik lagi, pada umumnya dan cara penyampaian materi lebih rapi terutama pada materi yang saya bawakan yaitu Model Assignment. 

Sabtu, 25 Maret 2017

Riset Operasi

A.                Pengertian Riset Operasi. 

            Arti riset operasi (operations research) telah banyak didefinisikan oleh beberapa ahli.

1  .      Morse dan Kimball
Mendefinisikan riset operasi sebagai metode ilmiah (scientific method) yang memungkinkan para manajer mengambil keputusan mengenai kegiatan yang mereka tangani dengan dasar kuantitatif. Definisi ini kurang tegas karena tidak tercermin perbedaan antara riset operasi dengan disiplin ilmu yang lain.

2.      Churchman, Arkoff dan Arnoff
Pada tahun 1950-an mengemukakan pengertian riset operasi sebagai aplikasi metode-metode, teknik-teknik dan peralatan-peralatan ilmiah dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul di dalam operasi perusahaan dengan tujuan ditemukannya pemecahan yang optimum masalah-masalah tersebut.

3.      Miller dan M.K. Starr
Mengartikan riset operasi sebagai peralatan manajemen yang menyatukan ilmu pengetahuan, matematika, dan logika dalam kerangka pemecahan masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari, sehingga akhirnya permasalahan tersebut dapat dipecahkan secara optimal.

4.      Mc Closky dan Trefthen
Mengartikan Riset Operasional sebagai suatu metode pengambilan keputusan yang dikembangkan dari studi operasi-operasi militer selama Perang Dunia II.

5.      S.L Cook
Operations research dijelaskan sebagai suatu metode, suatu pendekatan, seperangkat teknik, sekelompok kegiatan, suatu kombinasi beberapa disiplin, suatu perluasan dari disipilin-disiplin utama (matematika, teknik, ekonomi), suatu disiplinbaru, suatu lapangan kerja, bahkan suatu agama.

B.        Tujuan Riset Operasi. 

Riset Operasi adalah metode untuk memformulasikan dan merumuskan permasalahan sehari-hari baik mengenai bisnis, ekonomi, sosial maupun bidang lainnya ke dalam pemodelan matematis untuk mendapatkan solusi yang optimal.

Bagian terpenting dari Riset Operasi adalah bagaimana menerjemahkan permasalahan sehari-hari ke dalam model matematis. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemodelan harus disederhanakan dan apabila ada data yangkurang, kekurangan tersebut dapat diasumsikan atau diisi dengan pendekatan yang bersifat rasional.

Dalam Riset Operasi diperlukan ketajaman berpikir dan logika.Untuk mendapatkan solusi yang optimal dan memudahkan kita mendapatkanhasil, kita dapat menggunakan komputer. Software yang dapat digunakan antara lain: LINDO (Linear, Interactive and Discrete Optimizer) dan POM ForWindows.

Program linear adalah salah satu model matematika Riset operasi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah optimisasi, yaitu memaksimumkan atau meminimumkan fungsi tujuan yang bergantung pada sejumlah variabel input. Hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu tujuan penyelesaian masalah dan apa penyebab masalah tersebut.                                         

C.        Manfaat Penggunaan Riset Operasi. 

1.Merupakan alat untuk pengambilan keputusan dari berbagai sumber daya yang tersedia.

2.Riset oprasi berusaha menetapkan arah tindakan terbaik (optimum) dari sebuah masalah 
keputusan dibawah pembatasan sumber daya terbatas.

3.Memberikan pengembangan dari beberapa sektor, seperti teknik dan ilmu perhitungan, ilmu politik, matematik, ekonomi, teori probabilitas dan statistik

4. Memberikan kemudahan dalam pengambilan keputusan kegiatan kerja dalam bidang industri, bisnis, dan manajemen.

                                                                                                                     
D.        Sejarah Riset Operasi. 

           Sejarah Riset Operasi berawal selama perang dunia ke II yang sangat efektif sebagai metode penyelesaian masalah militer dengan mengoptimalkan kekuatan militer dalam menggunakan peralatan perang secara efisien.

            Setelah bidang militer yang sudah dinyatakan sukses, industri secara bertahap mengaplikasi penggunaan riset operasi, pada tahun 1951 dunia industri dan bisnis dalam riset operasinya memberikan dampak besar pada organisasi manajemen.

            Dan perkembangannya kini berada pada aspek pembagian kerja dan segmentasi tanggungjawab manajemen dalam organisasi, yang bergantung pada perkembangan teknologi, dan faktor lain seperti keadaan ekonomi, politik, sosial dan sebagainya secara sistematis.
                                                                                                 

E.        Contoh Penggunaan Riset Operasi. 

Aplikasi riset operasional tentunya dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Dalam permasalahan yang kompleks pengambilan keputusan tidak lagi ditunjang hanya oleh intuisi pimpinan (management) melainkan didukung oleh hasil analisis dari kumpulan data yang ada. Pembuatan keputusan merupakan bagian kunci kegiatan eksekutif, manajer, karyawan, setiap manusia dalam kehidupannya. Dalam permasalahan dari berbagai bidang yang telah dianalisis oleh perkembangan riset operasi dewasa ini, banyak sektor-sektor aplikasi yang mengalami kemajuan yang pesat didukung teknologi dalam sumber informasi menurut Siang (2009:3) antara lain:

1. Keuangan
Analisis cash flow, investasi, Aturan pembelian bahan dengan harga bervariasi, penentuan kuantitas dan waktu pembelian, strategi ekplorasi dan eksploitasi bahan mentah, kebijakan pergantian barang.

2. Distribusi
Lokasi dan ukuran gedung, pusat distribusi, mikro distribusi, kebijakan distribusi, logistik  dan sistem distribusi.

3. Perencanaan
Jumlah, ukuran, lokasi, dll. Beserta dengan interaksi didalamnya.

4. Industri
Perencanaan industri, stabilisasi produksi karyawan, training, dll.
5. Manajemen Konstruksi
Kebijakan maintenance, jumlah karyawan maintenance, pengaturan proyek, alokasi sumber karya.

6. Marketing
Pemilihan produk, timing, perlakuan terhadap kompetitor, penentuan jumlah salesman, strategi periklanan.

7. Personel
Pemilihan personil, gabungan, antara umur dan keterampilan, kebijakan penerimaan karyawan, pembagian karyawan.

Aplikasi riset operasi memiliki dampak yang kuat dalam studi masalah sosial dan pekerjaan umum. Orang lebih sadar tentang bagaimana riset operasi dapat membantu aktivitas pengambilan keputusan sehari-hari. Aplikasi dalam kesehatan masyarakat, perencanaan kota, dan sistem pendidikan kini sudah ditemukan.

Model keputusan merupakan alat yang menggambarkan permasalahan keputusan sedemikian rupa sehingga memungkinkan identifikasi dan evaluasi sistematik semua alternatif keputusan yang tersedia. Salah satu teknik yang digunakan untuk menganalisis alternatif keputusan adalah Riset Operasional. Riset Operasional merupakan metode pengoptimalan proses pengambilan keputusan yang dibatasi ketersediaan sumber daya. Penggunaan riset operasional sangat luas, pendekatannya menggunakan metode ilmiah. Proses pengoptimalan mulai dengan pengamatan yang mendalam dan formulasi masalah lalu diikuti dengan pembentukan model ilmiah (khususnya model matematik) yang menggambarkan inti sistem nyata. Model yang dibentuk harus mencukupi sebagai representasi tepat sifat-sifat penting situasi, sehingga kesimpulan yang ditarik dari model valid untuk permasalahan nyata. Kontribusi riset operasional berasal dari :

     1.  Penstrukturan situasi dunia nyata ke model matematik, menggambarkan elemen penting sehingga penyelesaian yang relevan ke tujuan pengambil keputusan diperoleh, termasuk mencari permasalahan dalam konteks keseluruhan sistem.

      2.  Mengeksplor struktur setiap penyelesaian dan mengembangkan prosedur sistematis untuk
mendapatkannya.

      3. Mengembangkan suatu penyelesaian, termasuk teori matematik jika perlu, yang menghasilkan nilai optimal ukuran sistem yang diinginkan (atau mungkin membandingkan alternatif tindakan dengan mengevaluasi ukuran yang diinginkan).

Dilihat dari data yang digunakan untuk memfasilitasi, pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi keputusan pasti, berisiko dan tidak pasti. Keputusan pasti didukung oleh data-data pasti. Diantara keputusan pasti dan tidak pasti ada keputusan beresiko. Pengambilan keputusan berisiko didukung oleh data yang tidak pasti, tetapi ketidakpastian itu dapat dinyatakan dalam bentuk peluang.

Optimasi adalah proses pencarian solusi yang terbaik; tidak selalu keuntungan paling tinggi yang bisa dicapai jika tujuan pengoptimalan adalah memaksimumkan keuntungan; atau tidak selalu biaya paling kecil yang bisa ditekan jika tujuan pengoptimalan adalah meminimumkan biaya. Tiga elemen permasalahan optimasi yang harus diidentifikasi, yaitu tujuan, alternatif keputusan dan sumber daya yang membatasi. Tujuan bisa berbentuk maksimisasi atau minimisasi. Bentuk maksimisasi digunakan jika tujuan pengoptimalan berhubungan dengan keuntungan, penerimaan dan sejenisnya. Sedangkan bentuk minimisasi akan dipilih jika tujuan pengoptimalan berhubungan dengan biaya, waktu, jarak dan sejenisnya

Sumber:



Selasa, 03 Januari 2017

Papua Nugini Protes TNI Bergeming

Media Indonesia (21 Feb 2013, Hal 01)
Papua Nugini me­nyatakan gerah dan memprotes aktivitas militer Indonesia di perbatasan yang diklaim mem­bahayakan keamanan nasional mereka. Dalam menanggapi itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan soal perbatasan kedua negara.
Perdana Menteri Papua Nugini (PNG) Peter O'Neill me­nyatakan pihaknya telah menemukan bukti pelanggaran yang dilakukan TNI di wilayahnya, di antaranya adanya pemba­ngunan pos-pos dan dermaga militer serta sebuah mercusuar TNI di Muara Sungai Torassi yang masuk wilayah PNG.

Karena itu, O'Neill telah me­merintahkan Menteri Luar Ne­geri Rimbink Pato untuk segera melayangkan protes terhadap Indonesia. Terkait dengan itu pula. PNG telah meminta bantuan Australia untuk mengem­bangkan fasilitas pertahanan mereka di perbatasan. ''Kegagalan di pihak kami ialah tidak mengembangkan daerah perbatasan dalam sebuah pendekatan holistik," ujar Menteri Penahanan PNG Fabian Pok. Menurut siaran Ra­dio Internasional Selandia Baru (RNZI), kemarin, Pok sudah ber­bicara dengan pejabat Australia dan mendapat indikasi akan mendapat bantuan.

Sebelumnya, demi melin­dungi kepentingan teritori­alnya, pemerintah PNG akan memperkuat armada perta­hanan mereka di kawasan yang berbatasan dengan Indonesia. Rencana itu akan meningkat­kan jumlah pasukan hingga 10 ribu personel, disertai armada dan perlengkapan pendukung pertahanan.

94 pos penjagaan
Saat menanggapi ulah PNG itu, Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyatakan tidak ada yang perlu dipermasalah­kan. Bahkan, TNI juga tidak mempermasalahkan rencana PNG menambah pasukan me­reka di perbatasan. "Selama ini kita baik. Soal ada penambahan pasukan PNG atau bantuan asing, itu kewenangan mereka," katanya.

Menurut Iskandar, TNI me­miliki 94 pos penjagaan diperbatasan yang terbentang dari wilayah pegunungan Bin­tang, Bovan Digul, Jayapura, Arso, dan Kabupaten Kerom. "Soal detailnya, kami tidak bisa beberkan. Pokoknya ada beberapa batalion di 94 pos penjagaan," paparnya.

Sementara itu, Kepala Pene­rangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Jansen Simanjuntak menjelaskan ada ratus­an patok batas negara RI-PNG yang diakui oleh kedua negara. Menurutnya, hingga saat ini ti­dak ada masalah, apalagi soal sengketa batas negara.

Menurut Jansen, semua ak­tivitas masyarakat di wilayah perbatasan RI-PNG di bawah pengawasan masing-masing. Dia mengakui terkadang me­mang ada tindakan pelanggaran hukum yang terjadi di wilayah perbatasan RI-PNG. Namun, lanjutnya, sejauh ini semua itu dalam batas wajar. "Di perbatasan, khususnya daerah Kota Jayapura di Skow Wutung, ada pasar perbatasan yang setiap harinya terjadi tran­saksi jual beli di antara warga kedua negara," tuturnya.

Ketika mengomentari perso­alan perbatasan itu, pengamat internasional dari Unpar Ban­dung, Andreas Hugo Pareira, mengatakan Indonesia harus serius menyikapinya. (Post Courier/The National/SW/MC/ Kid/Iwa/X-5) Dika Dania Kardi, dika@mediaindonesia.com.

Sumber: Koran Media Indonesia (21 Feb 2013, Hal 01)

Tanggapan:
Sengketa anatara perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini memang sangat mungkin terjadi mengingat perbatasan tersebut hanya memiliki tanda batas yang rancu dan pintu perbatasan yang seadanya. Konflik akibat dampak dari sengketa perbatasan tersebut dapat mengakibatkan pecah belah masyarakat disana, belum lagi apabila ada provokator yang ingin memecah belah, mengingat adanya kesenjangan masyarakat Papua dengan masyarakat lain di Indonesia. Maka dari itu pemerintah Indonesia dan Papua Nugini harus saling berkoordinasi agar tidak timbul kesalahpahaman, serta apabila terjadi konflik perbatasan harus di selesaikan secara baik tanpa mengorbankan rakyat sipil di kedua negara. Serta semua kalangan harus segera memantau di titik perbatasan RI dan Papua Nugini guna kontrol bersama agar tidak terjadi penyelesaian masalah, terutama penekanan pada profesionalisme aparat militer dalam penyelesaian kasus sengketa perbatasan.


Hanya di Denmark: Konglomerat Bertekuk Lutut di Depan Petani! Bag 2



Koperasi: Ratusan Tahun Mendominasi Ekonomi




Tabel-1. Beberapa jenis koperasi yang menguasai produk susu, daging, supply pertanian dan yang berhubungan dengan pertanian (Sumber: Danish Agriculture & Food Council, 2014)

Koperasi di Denmark, sebenarnya adalah semangat “gotong royong” seperti di kita. Koperasi muncul karena kebutuhan untuk saling bantu, gotong royong dalam mengelola ladang yang luas. 

Pada tahun 1300-an, pandemic yang disebut “black death” menyebabkan kematian ratusan juta jiwa, lebih dari 60% populasi Eropa punah karena pandemic yang disebabkan oleh sejenis bakteri. Setelah dianalisa DNA korban, pada tahun 2010, diketahui penyebab pandemic adalah bakteri jenis “Yersinia pestis”.

Denmark tak terkecuali, kematian penduduk yang lebih separuh menyebabkan ladang ladang kosong. Pemerintah kemudian mengeluarkan aturan bahwa tanah tanah yang kosong, tak boleh dimiliki swasta. Ladang ladang tersebut dibagi bagikan ke petani sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Petani seperti dapat durian runtuh, tiba tiba punya ladang yang sangat luas. Dari sinilah muncul ide “koperasi.” Koperasi kemudian berkembang ke berbagai unit usaha yang mendominasi ekonomi Denmark sampai ratusan tahun. 

Diantara koperasi yang omset penjualannya besar tahun 2013 adalah (lihat Tabel di atas): 

1. Arla Food (dairy), penjualan pertahun sebesar DKK 73,6 Milyar (Rp 147,2 Triliun) 

2. Danish Crown (daging), penjualan pertahun DKK 58,03 (Rp 116 Triliun) 

3. DLG (farm supply), penjualan pertahun DKK 59,1 (Rp 118 Triliun) 

4. Kopenhagen Fur Center, penjualan pertahun DKK 13,3 (Rp 26,6 Triliun) 

Produksi Pertanian 3 Kali Dari Kebutuhan 
Banyak negara, termasuk Indonesia belum swasembada pangan (kejadiannya: tak pernah, pernah swasembada, kemudian tidak swasembada lagi), tapi Denmark menghasilkan pangan 3 kali lipat dari kebutuhan penduduknya. Artinya produksi pangan Denmark melimpah ruah. 30% untuk konsumsi sendiri, sisanya (70%) diekspor ke 100 negara di berbagai penjuru dunia. Ada juga disumbangkan sebagai bantuan luar negeri Denmark (DANIDA) ke negara negara Afrika atau negara yang kekurangan pangan.



Grafik. Persantase produk pertanian yang diekspor dibandingkan dengan total produksi (sumber: Danish Agriculture & Food Council, 2012) Dari Grafik di atas, terlihat bahwa 90% keju diekspor, hanya 10% saja dikonsumsi sendiri. Sebaliknya, 28% grain (biji bijian) diekspor, kebanyakannya (72%) dikonsumsi sendiri. Tapi, lebih banyak produk untuk ekspor dari pada dikonsumsi sendiri. Akhirnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari Denmark, mulai dari pemberdayaan petani (sehingga lebih kuat dari konglomerat) sampai ke usaha pengadaan pangan yang melimpah ruah!

Sumber : http://www.kompasiana.com/terlambang/hanya-di-denmark-konglomerat-bertekuk-lutut-di-depan-petani_5694643c02b0bd840503e01f